Bumi Semakin Panas di Tengah Pemulihan Industri Global, Indonesia Bisa Apa?

Publisher:

JAKARTA, Pos Liputan – Emisi global karbon dioksida (CO2) belum cukup menurun untuk memenuhi tujuan kritis membatasi pemanasan bumi hingga 1,5 derajat Celcius (2,7 derajat Fahrenheit) di atas tingkat praindustri, menurut laporan baru yang ditulis oleh tim internasional yang terdiri lebih dari 100 ilmuwan, sebagaimana dilansir livescience(dot)com (11/7/22) lalu.

Faktanya, suhu global rata-rata berada di jalur yang akan melewati batas tersebut dalam satu dekade. Walau penurunan CO2 secara drastir pada puncak pandemi Covid-19 beberapa tahun terakhir, saat penerbangan pesawat berkurang secara signifikan dan ekonomi terhenti.

Namun, informasi yang dihimpun, Ketua pemodelan matematika sistem iklim di University of Exeter di Inggris dan penulis utama laporan tersebut melalui Live Science mengatakan, tindakan selama beberapa tahun terakhir tidak cukup untuk membalikkan lintasan emisi global.

Selain itu, beberapa hasil pengamatan juga menyebutkan, proyeksi untuk tahun 2022 suram, sejumlah ilmuan memperkirakan CO2 atmosfer pada 417,2 bagian per juta (ppm) — 51% di atas tingkat pra-industri — dan emisi global sebesar 40,6 miliar ton (36,8 miliar metrik ton).

Diketahui bersama, penyumbang terbesar adalah bahan bakar fosil. Penggunaan minyak global naik 2,2% dari tahun lalu, sebagian besar karena pemulihan industri penerbangan setelah kemerosotan akibat Covid-19.

Seperti di AS diperkirakan karena pemulihan industri pasca Covid-19, kata para ilmuwan, sementara lonjakan di India terkait dengan pembangunan berkelanjutan di negara itu.

“India sejauh ini paling mengejar ketertinggalan dalam hal infrastruktur, konstruksi, dan konsumsi energi per kapita, yang semuanya berarti pertumbuhan pesat dalam konsumsi energi yang belum dapat sepenuhnya ditutupi oleh energi terbarukan,” kata peneliti senior, Jan Ivar Korsbakken sebagaimana dikutip cicero[.]oslo[.]no.

Sementara itu, Jan Ivar Korsbakken bersama rekannya juga menulis, penurunan emisi bahan bakar fosil dari UE dapat bermuara pada perlambatan ekonomi yang dimulai pada tahun 2021 dan semakin memburuk ketika Rusia menginvasi Ukraina.

Mereka melaporkan, meningkatnya minat pada tenaga surya juga mungkin memainkan peran. Demikian pula, emisi yang lebih rendah di China sebagian besar berasal dari masalah ekonomi yang berkepanjangan setelah Covid-19 dan krisis utang di sektor konstruksi, tetapi juga mencerminkan peningkatan yang menjanjikan dalam penggunaan tenaga surya dan angin.

Bukan hanya bahan bakar fosil yang menghasilkan sekitar 90% dari total emisi CO2, laporan tersebut juga menyoroti kontributor utama lainnya.

“Sisa 10% dari penggunaan lahan, seperti deforestasi, juga sangat berarti,” kata Korsbakken kepada Live Science, dikutip media ini.

Hanya tiga negara yakni Indonesia, Brasil, dan Republik Demokratik Kongo yang menyumbang 58% dari “emisi penggunaan lahan” dunia.

“Penting bagi negara-negara kaya untuk membantu negara-negara ini berkembang dengan cara yang tidak membahayakan hutan mereka yang masih luas dan ekosistem yang kaya,” kata Korsbakken, ditinjau dari laman yang sama.

Beberapa laporan juga menyebuykan bahwa sulit untuk mengatakan apakah 2022 lebih buruk dari yang diharapkan, atau bagaimana tahun ini akan berjalan jika kita tidak secara bersamaan pulih dari pandemi dan hidup melalui perang yang telah menempatkan situasi yang tidak biasa.

Para peneliti juga mengungkapkan, kebisingan dari pandemi, kekurangan energi dan masalah rantai pasokan dari pemulihan, dan kekacauan yang ditimbulkan oleh invasi Rusia ke Ukraina menunjukkan bahwa sangat sulit untuk melihat efek apa pun yang mungkin ditimbulkan oleh kebijakan iklim.

Penulis: BurhanEditor: Jumardi
Baca berita Pos Liputan di:
|

Komentar