JAKARTA, Pos Liputan – Dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2026, Jagat Satwa Nusantara menggelar kegiatan Press Conference dan Pelepasliaran Merak Hijau dengan mengusung semangat “Merak Hijau Lestari”. Kegiatan tersebut berlangsung di Balé by BTN, Resto Bakau, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen Jagat Satwa Nusantara dalam mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia melalui program pengembangbiakan terkontrol dan persiapan pelepasliaran satwa ke habitat alaminya. Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah prosesi pemberangkatan Merak Hijau (Pavo muticus) menuju Pulau Handeuleum, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.
Dalam wawancara bersama tim peliputan, Mbak Firly menyampaikan bahwa tujuan utama kegiatan pelepasliaran tersebut adalah memberikan kesempatan kepada satwa untuk menjalani kehidupan yang lebih bebas dan leluasa di alam.
“Tujuan utamanya adalah agar satwa bisa hidup lebih leluasa di alamnya,” ujar Mbak Firly.
Menurutnya, upaya konservasi tidak hanya berfokus pada pengembangbiakan dan pemeliharaan satwa di lingkungan terkontrol, tetapi juga memberikan kesempatan bagi satwa untuk kembali menjalani kehidupan sesuai dengan perilaku alaminya di habitat yang tepat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dari sejumlah pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap pengelolaan dan pelestarian satwa. Sambutan tersebut disampaikan oleh Direktur Operasional Jagat Satwa Nusantara, M. Fardhan Khan, perwakilan Direktur Taman Mini Indonesia Indah, Menteri Kehutanan, serta Kepala Konservasi Sumber Daya Alam.
Dalam pemaparannya, M. Fardhan Khan menyampaikan berbagai program konservasi yang telah dijalankan Jagat Satwa Nusantara sebagai bentuk kontribusi terhadap pelestarian satwa dan lingkungan. Salah satunya melalui program hibah satwa kepada Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta pada 8 Maret 2024 dengan jumlah sebanyak 130 ekor satwa.
Selain program hibah, Jagat Satwa Nusantara juga mengembangkan kegiatan pelepasliaran satwa melalui kolaborasi bersama berbagai komunitas. Salah satu program yang pernah dilaksanakan adalah pelepasliaran 30 ekor ikan kancra bersama Komunitas Rungkun Awi di kawasan Ciasara, Kabupaten Bogor. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan ekosistem perairan dengan melibatkan komunitas dan masyarakat.
Komitmen terhadap pelestarian satwa juga diwujudkan melalui dukungan renovasi fasilitas Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur dengan nilai mencapai Rp226 juta. Dukungan tersebut mencakup pembangunan gudang penyimpanan, gudang pakan, kandang burung, ruang isolasi, serta aviary untuk menunjang kebutuhan penanganan dan perawatan satwa.
Dalam rangkaian sambutan, pemerintah turut menekankan pentingnya penguatan kebijakan konservasi satwa dan tumbuhan di Indonesia. Lembaga Konservasi (LK) Umum didorong agar tidak hanya berorientasi pada wisata edukasi, tetapi juga memiliki kontribusi nyata terhadap kegiatan konservasi. Dengan demikian, lembaga konservasi diharapkan mampu menjalankan fungsi pendidikan sekaligus berperan aktif dalam perlindungan dan pelestarian satwa.
Salah satu pendekatan yang turut menjadi perhatian adalah One Plan Approach, yaitu strategi perencanaan aksi konservasi yang terintegrasi dengan melibatkan berbagai pihak. Melalui pendekatan tersebut, pemerintah menargetkan penyusunan 38 dokumen rencana aksi konservasi serta 90 spesies memiliki dokumen konservasi di Jakarta pada 2029.
Penguatan konservasi juga menjadi bagian dari arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Pemerintah mendorong peningkatan nilai Indeks Konservasi Satwa dan Tumbuhan sebagai respons terhadap tren indeks yang mengalami penurunan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya langkah yang lebih terarah dan kolaboratif dalam menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati Indonesia.
Di samping penguatan kebijakan, pemanfaatan teknologi modern turut menjadi perhatian dalam pengembangan program konservasi. Salah satu teknologi yang didorong adalah Assisted Reproductive Technology (ART) atau teknologi reproduksi berbantuan. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangbiakan satwa secara terkontrol serta memperkuat upaya pelestarian spesies yang membutuhkan perhatian khusus.
Puncak kegiatan ditandai dengan prosesi pemberangkatan Merak Hijau (Pavo muticus) hasil pengembangbiakan terkontrol dari Jagat Satwa Nusantara menuju Pulau Handeuleum, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Prosesi tersebut menjadi simbol komitmen “Merak Hijau Lestari” sekaligus bentuk nyata dukungan terhadap upaya konservasi satwa liar Indonesia.
Pelepasliaran ini menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung keberlangsungan populasi satwa di habitat alaminya. Melalui persiapan yang dilakukan, satwa diharapkan dapat memperoleh kesempatan untuk menjalankan perilaku alaminya di lingkungan yang sesuai dengan karakteristik spesiesnya.
Peringatan HCPSN 2026 melalui kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian satwa bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun lembaga konservasi, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kolaborasi antara lembaga konservasi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat menjadi elemen penting dalam menjaga kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia.
Melalui program “Merak Hijau Lestari”, Jagat Satwa Nusantara menunjukkan bahwa upaya konservasi tidak berhenti pada pengembangbiakan satwa di lingkungan terkontrol, tetapi juga diarahkan pada persiapan pengembalian satwa ke habitat alaminya. Langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari kontribusi berkelanjutan dalam menjaga kelestarian satwa liar Indonesia bagi generasi mendatang.










Komentar