MAKASSAR, Pos Liputan – Permainan tradisional tak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak sejak usia dini.
Gagasan tersebut menjadi landasan pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Pelatihan Guru PAUD dalam Revitalisasi Nilai Budaya Lokal melalui Permainan Tradisional Sigajang Laleng Lipa’ untuk Penguatan Karakter Anak” yang digelar di TK Teratai Kota Makassar, Rabu (19/8/2026).
Kegiatan tersebut dipimpin Dr. Ir. Syamsuardi, S.Pd., M.Pd. selaku ketua tim PKM, dengan menghadirkan Dr. Hajerah, S.P.I., M.Pd. sebagai pemateri.
Pelatihan ini dirancang untuk memberikan wawasan sekaligus pengalaman kepada guru PAUD dalam memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal melalui pendekatan bermain yang sesuai dengan karakteristik dan tahapan perkembangan anak usia dini.
Bagi pendidikan anak usia dini, pengenalan budaya lokal dinilai penting karena tidak hanya membantu membangun karakter, tetapi juga menjadi sarana bagi anak untuk mengenal identitas budaya di lingkungan mereka sejak dini.
Namun, keberadaan permainan tradisional kini menghadapi tantangan. Perubahan pola bermain anak serta semakin dominannya permainan modern membuat permainan yang diwariskan secara turun-temurun mulai jarang ditemukan dalam aktivitas keseharian anak.
Kondisi tersebut mendorong perlunya upaya kreatif untuk menghadirkan kembali permainan tradisional dalam lingkungan pendidikan.
Dalam pelatihan tersebut, guru diperkenalkan dengan Sigajang Laleng Lipa’ sebagai salah satu tradisi budaya yang dapat diadaptasi menjadi sumber pembelajaran. Adaptasi tersebut tidak diarahkan pada bentuk asli atau aspek fisik tradisi yang tidak sesuai bagi anak usia dini, melainkan pada penggalian nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam aktivitas bermain yang aman, edukatif, menyenangkan, serta sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Dr. Hajerah menekankan pentingnya kemampuan guru dalam mengubah nilai budaya lokal menjadi pengalaman belajar yang bermakna bagi anak.
“Guru didorong untuk tidak hanya mengenalkan nama atau bentuk permainan tradisional, tetapi juga mengembangkan aktivitas yang memungkinkan anak mengenal nilai seperti kerja sama, tanggung jawab, keberanian, saling menghargai, kepedulian, dan kebersamaan,” katanya.
Pelatihan berlangsung secara interaktif. Para guru tidak hanya mendapatkan materi secara konseptual, tetapi juga diajak berdiskusi mengenai berbagai kemungkinan penerapan unsur permainan tradisional dalam pembelajaran PAUD.
Melalui diskusi tersebut, peserta mengeksplorasi cara mengadaptasi budaya lokal menjadi kegiatan bermain yang menarik sekaligus memiliki tujuan dalam pengembangan karakter anak.
Respons positif pun ditunjukkan para peserta. Mereka menilai pelatihan tersebut memberikan perspektif baru mengenai pemanfaatan budaya lokal sebagai sumber belajar yang dekat dengan kehidupan anak.
Guru juga semakin memahami bahwa penguatan karakter tidak selalu harus dilakukan melalui media pembelajaran modern. Lingkungan sosial dan budaya di sekitar anak justru dapat menjadi sumber belajar yang kaya dan relevan.
Selain menanamkan karakter, pemanfaatan permainan tradisional juga membuka ruang bagi anak untuk mengenal budaya daerah dengan cara yang menyenangkan. Interaksi dalam aktivitas bermain dapat sekaligus melatih kemampuan sosial anak, seperti bekerja sama, menghargai teman, dan membangun rasa kebersamaan.
Ketua Tim PKM, Dr. Ir. Syamsuardi, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa guru memiliki posisi penting dalam menjaga keberlanjutan budaya melalui dunia pendidikan.
“Revitalisasi permainan tradisional di lingkungan PAUD bukan sekadar upaya mempertahankan permainan masa lalu, tetapi merupakan bagian dari strategi menghadirkan sumber belajar yang relevan dengan kehidupan anak sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter sejak dini,” jelasnya.
Melalui kegiatan tersebut, guru PAUD diharapkan mampu mengembangkan berbagai aktivitas bermain yang berakar pada budaya lokal dan tetap sejalan dengan prinsip pembelajaran anak usia dini.
Dengan demikian, budaya lokal tidak berhenti sebagai pengetahuan yang sekadar diperkenalkan kepada anak. Lebih dari itu, budaya dapat dihadirkan sebagai pengalaman nyata yang membantu anak belajar, berinteraksi, mengenal lingkungannya, sekaligus membangun karakter melalui kegiatan bermain.












Komentar