GOWA, Pos Liputan – Tim Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) BIMA Tahun 2026 melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Bontolempangang, Kabupaten Gowa, pada 16–18 Juli 2026.
Melalui program bertema “Pemberdayaan dan Peningkatan Ekonomi Keluarga Kelompok Tani Spora melalui Pengembangan Usaha dan Diversifikasi Produk Olahan Jagung Berbasis Zero Waste”, tim berupaya mendorong peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan usaha berbasis komoditas jagung yang bernilai tambah dan berkelanjutan.
Program yang didanai melalui Hibah PKM Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026 untuk pemberdayaan Kelompok Tani Spora.
Pendekatan zero waste diterapkan agar seluruh bagian tanaman jagung dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi, sehingga tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga mengurangi limbah pertanian.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Desa Bontolempangang, Muslimin. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi kolaborasi Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) yang dinilai mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui pendampingan pengembangan potensi jagung sebagai komoditas unggulan desa.
Menurut Muslimin, program tersebut menjadi langkah strategis dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian ekonomi masyarakat melalui inovasi produk olahan jagung yang memiliki nilai tambah. Pembukaan kegiatan turut dihadiri tokoh masyarakat, tim PKM BIMA 2026, akademisi, praktisi UMKM, serta anggota Kelompok Tani Spora sebagai peserta.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta memperoleh berbagai materi yang disampaikan oleh tim dosen lintas disiplin ilmu bersama praktisi UMKM. Materi yang diberikan mencakup teknik pengolahan dan diversifikasi produk berbahan dasar jagung, kewirausahaan, strategi pengembangan usaha berkelanjutan, manajemen usaha dan keuangan, pemasaran digital, hingga pemanfaatan limbah jagung menjadi produk bernilai ekonomi seperti briket.
Tim PKM yang berasal dari UNM dan PNUP dipimpin oleh Hasisa Haruna sebagai ketua tim. Ia membawakan materi mengenai pengolahan produk olahan jagung dan penerapan konsep zero waste.
Sementara itu, Andi Reski Nurhikma menyampaikan materi kewirausahaan dan strategi usaha berkelanjutan, Asmirawati membahas manajemen usaha serta pengelolaan keuangan, Asmayanti memberikan pelatihan mengenai pengemasan produk dan pemasaran digital, sedangkan Nurul Fitrah Islamiah menjelaskan pemanfaatan limbah jagung menjadi briket sebagai salah satu inovasi yang memiliki nilai ekonomis.
Tidak hanya menerima materi secara teoritis, peserta juga mendapatkan kesempatan praktik langsung bersama praktisi UMKM Sulawesi Selatan, Anugerah Agung. Dalam sesi tersebut, peserta mempraktikkan proses pembuatan marning, mulai dari pemilihan bahan baku, perebusan, pengeringan, teknik penggorengan, hingga pengemasan produk agar memiliki kualitas yang layak dipasarkan.
Pelatihan praktik tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta mengenai seluruh tahapan produksi, sehingga mereka memiliki bekal untuk mengembangkan usaha olahan jagung secara mandiri di lingkungan masing-masing.
Pelaksanaan program turut didukung oleh mahasiswa Jihad Hisbulloh Santoso dan Indah Bila Rahmawati yang berperan dalam membantu persiapan kegiatan, mendampingi peserta selama pelatihan, serta melakukan dokumentasi dan evaluasi seluruh rangkaian program.
Ketua Tim PKM, Hasisa Haruna, mengatakan bahwa program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan mengolah jagung menjadi produk bernilai tambah, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat dalam aspek kewirausahaan, pengelolaan keuangan, pemasaran digital, serta pemanfaatan limbah agar usaha yang dikembangkan dapat tumbuh secara berkelanjutan.
“Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan masyarakat dalam mengolah jagung menjadi produk bernilai tambah, tetapi juga memperkuat kapasitas peserta dalam aspek kewirausahaan, pengelolaan keuangan, pemasaran digital, serta pemanfaatan limbah agar usaha yang dikembangkan mampu tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Hasisa Haruna.
Ia menambahkan, sinergi antara akademisi, praktisi, pemerintah desa, dan masyarakat merupakan kunci dalam menciptakan usaha berbasis potensi lokal yang memiliki daya saing.
Manfaat program tersebut turut dirasakan oleh peserta. Salah seorang anggota Kelompok Tani Spora, Amrialdi, mengaku memperoleh banyak pengetahuan dan keterampilan baru, terutama dalam diversifikasi produk olahan jagung berbasis zero waste dan teknik pembuatan marning yang dapat dijadikan peluang usaha.
“Ilmu yang diberikan oleh tim dosen dan praktisi mudah dipahami serta dapat langsung diterapkan sebagai peluang usaha untuk meningkatkan pendapatan keluarga,” katanya.
Amrialdi berharap program pendampingan seperti ini dapat terus berlanjut, tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi juga melalui pembinaan usaha secara berkesinambungan agar kelompok tani semakin mandiri, mampu menghasilkan produk berkualitas, serta memiliki daya saing dan akses pasar yang lebih luas.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, praktisi, dan masyarakat, PKM BIMA 2026 diharapkan mampu melahirkan inovasi produk olahan jagung yang kompetitif, memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal, serta menghadirkan model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Program ini sekaligus menjadi implementasi nyata Tridarma Perguruan Tinggi dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui inovasi, pendampingan, dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.








Komentar