GOWA, Pos Liputan– Tingginya kualitas pendidikan yang ditawarkan Pondok Pesantren Tahfiz Gratis Al-Imam Hafs Bin Sulaiman Al-Kufi membuat lembaga ini dibanjiri pendaftar pada Penerimaan Santri Baru (PSB) Tahun Pelajaran 2026-2027.
Puluhan bahkan hampir ratusan calon santri dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan hingga luar pulau mendaftarkan diri untuk mengikuti program tahfiz Al-Qur’an yang seluruh biaya pendidikannya digratiskan. Namun, dari jumlah tersebut, pondok hanya mampu menerima 15 santri baru karena keterbatasan fasilitas.
Pimpinan sekaligus Pendiri Pondok, Ustadz Supriyansa, S.Pd, mengatakan tingginya minat masyarakat tidak terlepas dari kualitas pembinaan yang diberikan langsung oleh para Hafizh Al-Qur’an 30 juz bersanad serta alumni Timur Tengah.
“Sanad itu penting. Santri kami tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga mutqin dan tersambung sanad bacaannya hingga Rasulullah SAW. Selain itu, para pembina merupakan alumni Mesir dan Madinah yang menguasai metode tahfiz modern,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, pihak pondok sebenarnya ingin menerima lebih banyak santri. Namun kondisi fasilitas yang ada memaksa mereka membatasi jumlah penerimaan.
“Jujur, hati kami remuk. Banyak anak datang dengan harapan besar untuk menghafal Al-Qur’an, tetapi terpaksa kami tolak karena keterbatasan sarana yang ada, Asrama Penuh dan Air Bersih Sulit,” ungkapnya.
Ia menjelaskan sedikitnya terdapat empat kendala utama yang dihadapi pondok saat ini, yakni kapasitas asrama yang sudah penuh, belum tersedianya ruang kelas khusus, krisis air bersih, serta biaya operasional yang sepenuhnya bergantung pada donasi para muhsinin.
Asrama yang tersedia saat ini hanya mampu menampung sekitar 50 santri. Sementara proses belajar mengajar masih memanfaatkan masjid dan teras sebagai ruang halaqah. Di sisi lain, sumur bor yang digunakan sering mengalami kekeringan sehingga para santri harus mengantre untuk kebutuhan wudhu dan mandi.
Meski seluruh layanan pendidikan diberikan secara gratis, Ustadz Supriyansa menegaskan pihaknya tidak ingin mengorbankan kualitas pembinaan.
“Gratis bukan berarti asal-asalan. Target kami adalah melahirkan hafiz 30 juz dalam tiga tahun dengan bacaan sesuai sanad. Untuk itu dibutuhkan fasilitas yang layak, lingkungan belajar yang kondusif, serta ketersediaan air yang memadai,” tegasnya.
Saat ini Pondok Pesantren Tahfiz Gratis Al-Imam Hafs Bin Sulaiman Al-Kufi hanya memiliki satu asrama sederhana dan satu aula darurat yang digunakan secara multifungsi sebagai ruang belajar, makan, hingga tempat istirahat santri.
Karena itu, pihak pondok mengajak kaum muslimin untuk berpartisipasi melalui wakaf produktif maupun dukungan operasional. Kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah pembangunan asrama dan ruang kelas baru, penyediaan sumur bor serta tandon air, dan dukungan biaya makan santri serta bisyarah para pengajar.
“Di pondok ini, satu santri ditargetkan membaca lima juz Al-Qur’an setiap hari. Jika ada 50 santri, berarti sekitar 250 juz Al-Qur’an dibaca setiap hari. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir bagi para pewakaf dan donatur,” tutupnya.
Pondok Pesantren Tahfiz Gratis Al-Imam Hafs Bin Sulaiman Al-Kufi berlokasi di Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dengan fokus program karantina tahfiz 30 juz khusus santri putra.













Komentar