Bank Dunia Beri Pinjaman Rp4,6 Triliun ke Indonesia Untuk Atasi Kasus TBC

Publisher:

JAKARTA, Pos Liputan – Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia atau World Bank akhirnya menyetujui pinjaman Indonesia sebesar US$300 juta atau setara Rp 4,68 triliun sesuai kurs saat pinjaman itu disepakati pada 19 Desember 2022.

Pemberian pinjaman itu untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan cakupan, kualitas, dan efisiensi penanganan tuberkulosis (TBC) di Indonesia.

“Indonesia telah menunjukkan komitmennya dalam memberantas TBC dan Bank Dunia bangga mendukung perjuangan ini,” kata Satu Kahkonen, Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste dalam keterangan resminya dikutip dari situs resmi Bank Dunia.

Tantangan bagi Indonesia dalam mengatasi kasus TBC akan meningkat untuk menemukan dan mengobati, terutama sejak awal pandemi COVID-19.

Bahkan sebelum pandemi, Indonesia dinilai sebagai penyumbang kasus TBC terbesar ketiga secara global.

Menurut data Word Bank, pada tahun 2021, negara ini menyumbangkan sekitar 9 persen dari total 10,6 juta kasus TBC baru di seluruh dunia. Indonesia memiliki kejadian kasus TBC pada lebih dari 969.000 orang dan lebih dari 150.000 orang meninggal setiap tahun akibat penyakit menular ini.

Penyakit TBC ini tidak berdampak signifikan terhadap kesehatan manusia tetapi juga memberi dampak besar terhadap beban ekonomi.

Sebuah penelitian yang dicatat oleh World Bank memperkirakan bahwa total biaya tahunan terkait TBC di Indonesia mencapai US$6,9 miliar atau setara Rp107 triliun pertahun, termasuk hilangnya produktivitas bahkan kematian dini.

“Ini akan membantu agenda transformasi kesehatan Kementerian melalui penguatan respons layanan kesehatan primer dan pencapaian tujuan kami untuk mengurangi 90 persen kasus baru TBC pada tahun 2030,” ucap Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Metode pinjaman tersebut diimplementasikan dalam kemitraan bersama Global Fund melalui mekanisme pembelian berbasis hasil yang inovatif di mana Global Fund menyediakan sejumlah US$20 juta untuk mengurangi pembayaran bunga dan pokok Pemerintah Indonesia.

Pembiayaan ini menggunakan pendekatan berbasis hasil yang akan terfokus pada tiga area yang menjadi target output pembiayaan tersebut.

Area pertama, memperkuat respons terkait penanganan TBC di tingkat daerah atau sub-nasional, seperti penemuan kasus, cakupan pengobatan, dan respons tepat waktu, di mana hasil dari area pertama ini akan terhubung dengan transfer fiskal daerah.

Kedua, memperkuat tanggapan penanganan TBC di antara penyedia layanan kesehatan primer, termasuk penyedia layanan kesehatan swasta. Pembiayaan akan membantu menghubungkan penyedia layanan dari sektor swasta dengan program TBC nasional, dan memudahkan mereka untuk memberi tahu, mendiagnosis, dan mengobati TBC dengan meningkatkan akses mereka pada diagnostik dan obat-obatan yang disediakan oleh Program Tuberkulosis Nasional.

Ketiga, meningkatkan sistem digital untuk TBC dan kebijakan yang terinformasi dengan baik melalui penciptaan ekosistem yang bertujuan meminimalkan beban pelaporan dan meningkatkan ketersediaan dan keandalan data.

Ekosistem ini akan mendukung ekuitas, pemerataan akses, dan pemantauan program TB yang lebih baik bagi layanan kesehatan sektor publik dan swasta.

Komentar