Ibu Bekerja dan Tekanan Ekonomi Keluarga

Publisher:
Eksklusif, Berita Terkini di WhatsApp Posliputan.com

Pos Liputan – “Selama membesarkan anak yang sehat, bergizi, dan berkualitas masih menjadi beban ekonomi yang semakin berat, maka keputusan banyak ibu untuk bekerja bukanlah kegagalan dalam menjalankan peran sebagai ibu, melainkan konsekuensi dari kondisi sosial-ekonomi yang belum sepenuhnya berpihak kepada keluarga”.

Hari ini, membesarkan anak bukanlah perkara murah. Harga bahan pangan, kebutuhan dasar rumah tangga, hingga biaya pengasuhan terus meningkat. Padahal, para ahli gizi terus mengingatkan bahwa pemenuhan nutrisi pada awal kehidupan merupakan fondasi bagi tumbuh kembang anak. Ironisnya, tanggung jawab memenuhi kebutuhan tersebut semakin besar dibebankan kepada keluarga, sementara kemampuan ekonomi banyak rumah tangga tidak bertumbuh dengan laju yang sama.

Berbagai kampanye melalui media massa dan media sosial telah membuat para ibu semakin memahami pentingnya gizi seimbang bagi anak. Persoalannya, tantangan utama saat ini bukan lagi pada akses informasi, melainkan kemampuan ekonomi untuk mewujudkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kebutuhan keluarga terus meningkat, sementara pendapatan tidak bertambah secara sebanding, satu penghasilan sering kali tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Akibatnya, banyak keluarga bergantung pada dua sumber penghasilan agar kebutuhan anak tetap terpenuhi. Dalam situasi seperti ini, bekerja bukan lagi pilihan seorang ibu, melainkan strategi keluarga untuk mempertahankan kualitas hidup anak.

Sayangnya, perdebatan di ruang publik sering kali berhenti pada pilihan apakah seorang ibu harus bekerja atau tinggal di rumah mendampingi anaknya. Padahal, sangat sedikit yang membahas akar persoalan yang mendorong banyak ibu mengambil keputusan tersebut. Di tengah kondisi itu, negara justru terus mengampanyekan lahirnya Generasi Emas 2045.

Baca Juga:  
Mal yang Riuh, Takjil yang Laris, dan Pulang Kampung: Perspektif Sosial dan Ekonomi

Namun, di saat yang sama, harga pangan bergizi terus meningkat, biaya pengasuhan tidak murah, dan banyak keluarga bergantung pada dua sumber penghasilan. Akibatnya, banyak ibu menghadapi dilema: tetap di rumah demi mendampingi anak atau bekerja demi memastikan kebutuhan gizi dan masa depan anak terpenuhi.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kontradiksi inilah yang seharusnya menjadi perhatian. Negara tidak dapat terus mengampanyekan pentingnya investasi pada kualitas sumber daya manusia tanpa memastikan bahwa keluarga memiliki kemampuan ekonomi untuk mewujudkannya. Pengetahuan tentang gizi tidak akan berarti apabila daya beli keluarga terus melemah.

Baca Juga:  
Budak Politik

Anjuran memberikan protein hewani setiap hari akan sulit diwujudkan jika harga pangan semakin tidak terjangkau. Demikian pula, ajakan agar orang tua lebih banyak mendampingi anak menjadi tidak realistis ketika kondisi ekonomi memaksa keduanya bekerja. Sudah saatnya arah perdebatan diubah. Persoalannya bukan apakah seorang ibu seharusnya bekerja atau tetap di rumah. Persoalannya adalah mengapa semakin banyak keluarga kehilangan kebebasan untuk memilih.

Selama membesarkan anak yang sehat, bergizi, dan berkualitas masih menjadi beban ekonomi yang semakin berat, maka keputusan banyak ibu untuk bekerja bukanlah kegagalan dalam menjalankan peran sebagai ibu, melainkan konsekuensi dari kondisi sosial-ekonomi yang belum sepenuhnya berpihak kepada keluarga

Penulis: Nurliana (Dosen Pendidikan Ekonomi FEB UNM)
Baca berita Pos Liputan di:
|

Komentar