MAKASSAR, Pos Liputan – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, mengutus delegasi resmi BPOM RI ke Denmark untuk melakukan penjajakan kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Denmark di bidang pengawasan obat, pangan, laboratorium inovasi, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan sistem regulatori berstandar internasional.
Misi strategis yang berlangsung selama sepekan tersebut merupakan bagian dari diplomasi regulatori BPOM dalam memperluas kerja sama global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai otoritas pengawas obat dan makanan yang telah memperoleh pengakuan sebagai World Health Organization Listed Authority (WLA).
Delegasi BPOM RI dipimpin oleh Mayagustina selaku Fungsional Ahli Utama yang bertindak sebagai Ketua Delegasi BPOM RI selama pelaksanaan misi di Copenhagen.
Rombongan lain Rita Endang, Staf Khusus Kepala BPOM RI sekaligus Pakar Ahli Bidang Pengawasan Sediaan Farmasi; Wachyudi Muchsin,Staf Khusus pakar ahli Kepala BPOM RI Bidang Humas dan Hukum; Lynda Kurnia Wardhani, Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat; Mimin Jiwo Winanti, Kepala Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan; Fitry Fatima dari Biro Kerja Sama; Atti Ratnawati, Ketua Tim Registrasi Obat; serta Meliza Suhartatik, Ketua Tim Standardisasi Pangan Olahan.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menegaskan bahwa penjajakan kerja sama dengan Denmark memiliki arti penting karena kedua negara sama-sama telah mencapai status WHO Listed Authority. Kesamaan tersebut menjadi modal kuat untuk membangun kemitraan yang lebih erat dalam bidang regulasi, laboratorium, inovasi, serta pengembangan kapasitas kelembagaan.
“Kerja sama ini diharapkan menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan pengalaman terbaik antara Indonesia dan Denmark. Kami ingin memperkuat kapasitas laboratorium, meningkatkan kompetensi SDM, memperluas jejaring internasional, serta mendorong inovasi dalam pengawasan obat dan makanan demi perlindungan masyarakat,” ujar Taruna Ikrar.
Selama berada di Denmark, delegasi BPOM dijadwalkan melakukan pertemuan dengan berbagai institusi strategis, antara lain Danish Medicines Agency, Danish Veterinary, Food, Agriculture and Fisheries Agency, sejumlah laboratorium inovasi, industri farmasi, lembaga penelitian, serta berbagai pemangku kepentingan dalam skema Public-Private Partnership (PPP).
Berbeda dengan Indonesia yang memiliki BPOM sebagai lembaga tunggal yang mengawasi obat dan makanan secara terintegrasi, di Denmark fungsi tersebut dibagi ke dalam dua institusi pemerintah yang berbeda. Pengawasan obat-obatan, termasuk perizinan, produksi, keamanan obat, dan alat kesehatan berada di bawah tanggung jawab Danish Medicines Agency. Sementara itu, pengawasan keamanan pangan, produk makanan dan minuman, serta kesejahteraan hewan menjadi kewenangan Danish Veterinary, Food, Agriculture and Fisheries Agency.
Dalam pertemuan dengan Danish Veterinary, Food, Agriculture and Fisheries Agency,
Kepala BPOM RI Prof. Dr. Taruna Ikrar turut hadir secara virtual video dari Indonesia.
Pada kesempatan tersebut, Taruna Ikrar menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Denmark atas keterbukaan dan komitmennya dalam membangun sistem pengawasan pangan yang kuat, modern, dan berbasis ilmu pengetahuan.
Taruna Ikrar menegaskan bahwa Indonesia dan Denmark memiliki kesamaan visi dalam memastikan masyarakat memperoleh produk pangan yang aman, bermutu, dan memenuhi standar internasional. Menurutnya, kerja sama kedua negara sangat strategis untuk memperkuat kapasitas regulatori, pengawasan berbasis risiko, pengembangan laboratorium modern, digitalisasi layanan, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.
“ Kami menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Denmark dan Danish Veterinary, Food, Agriculture and Fisheries Agency atas semangat kolaborasi yang ditunjukkan. Kami berharap pertemuan ini menjadi langkah awal bagi terbangunnya kerja sama yang lebih erat antara Indonesia dan Denmark, tidak hanya dalam bidang pengawasan pangan, tetapi juga pengembangan laboratorium, riset, inovasi, dan peningkatan kapasitas regulator demi melindungi kesehatan masyarakat kedua negara,” ujar Taruna Ikrar melalui video konferensi.
Taruna menambahkan bahwa hubungan bilateral yang terjalin diharapkan dapat berkembang menjadi program kerja sama konkret, meliputi pertukaran ahli, pelatihan teknis, kolaborasi penelitian, harmonisasi standar, transfer pengetahuan, hingga dukungan terhadap peningkatan daya saing produk pangan Indonesia di pasar internasional. Menurutnya, sinergi regulator kedua negara akan memberikan manfaat besar bagi perlindungan konsumen sekaligus mendorong pertumbuhan industri pangan yang berkelanjutan.
Struktur kelembagaan Denmark tersebut menjadi salah satu aspek yang ingin dipelajari BPOM RI dalam rangka memperkaya perspektif penguatan sistem pengawasan nasional. Delegasi juga mendalami praktik terbaik Denmark dalam pengembangan laboratorium modern, pengelolaan data ilmiah, digitalisasi layanan regulatori, pengawasan berbasis risiko, hingga kolaborasi pemerintah dan sektor swasta dalam mendorong inovasi.
Selain melakukan penjajakan kerja sama, delegasi BPOM RI juga memaparkan berbagai transformasi yang telah dilakukan BPOM di bawah kepemimpinan Taruna Ikrar. Di antaranya keberhasilan meraih status WLA WHO, penguatan kapasitas laboratorium nasional, percepatan transformasi digital, reformasi regulasi, serta peningkatan kualitas layanan publik di bidang pengawasan obat dan makanan.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, delegasi BPOM RI juga diterima oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Denmark, Siti Nugraha Mauludiah, di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Denmark. Duta Besar menyambut baik misi BPOM RI dan mendukung penuh upaya penguatan kerja sama antara Indonesia dan Denmark, khususnya di bidang pengawasan obat, pangan, inovasi laboratorium, pengembangan SDM, serta peluang investasi sektor kesehatan dan pangan.
Taruna Ikrar menyampaikan bahwa kerja sama yang dijajaki tidak hanya berorientasi pada penguatan kapasitas regulator, tetapi juga membuka peluang yang lebih luas bagi industri dan pelaku usaha Indonesia untuk membangun kemitraan strategis dengan mitra di Denmark.
“Diplomasi kesehatan dan diplomasi regulatori menjadi instrumen penting dalam memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Kami ingin memastikan Indonesia terus menjadi bagian dari ekosistem regulatori global yang maju, adaptif, dan inovatif. Pada saat yang sama, kerja sama ini juga diharapkan membuka peluang investasi dan kolaborasi bisnis bagi pelaku usaha Indonesia di Denmark,” tegas Taruna Ikrar.
Melalui misi ini, BPOM berharap dapat membuka peluang kerja sama konkret dalam bentuk pertukaran ahli, program pelatihan bersama, kolaborasi penelitian, penguatan laboratorium pengujian, transfer teknologi, serta pengembangan inovasi yang mendukung peningkatan mutu pengawasan obat dan makanan di Indonesia.
Misi ke Denmark tersebut menjadi langkah lanjutan BPOM dalam memperkuat jejaring internasional sekaligus menghadirkan berbagai praktik terbaik dunia untuk mendukung perlindungan kesehatan masyarakat, kemajuan industri nasional, serta peningkatan daya saing Indonesia di tingkat global. Selain itu, kerja sama ini diharapkan dapat membuka jalan bagi pelaku usaha Indonesia untuk memperluas investasi, memperkuat kemitraan internasional, dan meningkatkan akses produk nasional ke pasar global.














Komentar