SINJAI, PosLiputan – Krisis air bersih di Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Sinjai, kembali menjadi perhatian. Harga air bersih yang sebelumnya berada di kisaran Rp6.000–Rp7.000 per 30 liter kini disebut melonjak hingga Rp12.000 saat musim kemarau.
Kondisi tersebut mendapat sorotan Wakil Bupati Sinjai Andi Mahyanto Mazda. Ia meminta Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sinjai meninjau kembali kenaikan harga air yang dinilai semakin membebani masyarakat di wilayah kepulauan.
“Harusnya PDAM meninjau ulang kenaikan harga tersebut karena sangat membebani masyarakat,” tegas Andi Mahyanto, Sabtu (19/9/2026).
Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya stabil harus menjadi pertimbangan dalam menentukan kebijakan pelayanan kebutuhan dasar, termasuk penyediaan air bersih.
“Apalagi kondisi ekonomi masyarakat global hari ini tidak menentu. Apalagi masyarakat Pulau Sembilan itu sangat memberatkan, makanya perlu ditinjau ulang,” ujarnya.
Persoalan air bersih di Pulau Sembilan bukan hanya menyangkut kenaikan harga. Warga juga mempertanyakan ketersediaan fasilitas pengisian dan distribusi air yang dinilai belum memadai di wilayah Kabupaten Sinjai.
Sejumlah pengusaha air bahkan disebut memilih mengambil pasokan dari wilayah Kabupaten Bone karena fasilitas pengisian air dan akses tambatan perahu dianggap lebih mudah.
Sade, salah seorang warga, mengatakan pengambilan air dari Laggoppo, Kabupaten Bone, relatif lebih praktis karena fasilitas pengisian sudah tersedia.
“Kami ambil air di Laggoppo karena sudah standby selangnya. Selain mudah, harganya relatif murah. Kalau di Sinjai belum ada sentral pengisian airnya. Beda di Laggoppo, sudah siap semua, bahkan tambatan perahu kami langsung di teras rumah,” ujar Sade.
Ia juga menyoroti keberadaan kapal pengangkut air yang disebut pernah dihibahkan pemerintah pusat untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat Pulau Sembilan.
Menurutnya, kapal tersebut kini tidak lagi beroperasi dan kondisinya disebut telah terbengkalai.
“Sudah puluhan tahun pemerintah tidak mengakomodir air bersih untuk kami di Pulau Sembilan. Kapal pengangkut yang dahulu dihibahkan pemerintah pusat kini tinggal bangkai karena aturannya sangat berbelit-belit,” katanya.
Kenaikan harga air menjadi semakin terasa bagi warga karena terjadi bersamaan dengan keterbatasan pasokan selama musim kemarau.
Jika sebelumnya masyarakat membeli air dengan harga sekitar Rp6.000–Rp7.000 per 30 liter, kini mereka harus mengeluarkan biaya hingga Rp12.000 untuk jumlah air yang sama.
Kondisi itu membuat warga menghadapi persoalan ganda: pasokan air terbatas, sementara harga kebutuhan dasar tersebut justru meningkat.
Sorotan Wabup Andi Mahyanto pun membuka kembali persoalan yang lebih luas, yakni soal ketersediaan infrastruktur air bersih di wilayah kepulauan. Warga berharap pemerintah tidak hanya meninjau persoalan tarif, tetapi juga menghadirkan fasilitas pengisian dan distribusi air yang dapat diakses dengan mudah dan terjangkau.
Masyarakat Pulau Sembilan juga berharap pemerintah daerah mencari solusi konkret terhadap keberadaan sarana pengangkutan air yang sebelumnya disebut pernah disediakan pemerintah pusat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PDAM Sinjai belum memberikan penjelasan terkait dasar penetapan harga air yang disebut mencapai Rp12.000 per 30 liter maupun langkah yang akan dilakukan menyusul sorotan Wakil Bupati Sinjai tersebut.









Komentar