MAKASSAR, PosLiputan — Fenomena penggunaan game online secara berlebihan di kalangan anak dan remaja awal mulai memunculkan persoalan baru. Tidak hanya berkaitan dengan durasi bermain, kecanduan game juga berpotensi beriringan dengan munculnya perilaku siber berisiko.
Fenomena tersebut ditemukan di Taletting, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Jumat (11/9/2026).
Berdasarkan hasil observasi tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) 2026 Universitas Negeri Makassar (UNM) yang diketuai Asmayani, mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), anak usia 10 hingga 15 tahun diketahui dapat menghabiskan waktu bermain game online sekitar 5 hingga 10 jam per hari.
Kondisi itu dalam temuan tim turut diikuti sejumlah perilaku siber berisiko, seperti peretasan akun, praktik taruhan dalam permainan, serta penggunaan uang untuk melakukan top up.
Persoalan tersebut menjadi perhatian karena anak usia 10–15 tahun masih berada dalam fase perkembangan kemampuan mengendalikan pikiran dan perilaku. Intensitas bermain game yang tinggi, ditambah pengaruh lingkungan pertemanan dan minimnya pengawasan, dapat memengaruhi cara anak memandang perilaku tertentu di ruang digital.
Empat Faktor yang Memengaruhi
Penelitian yang dilakukan terhadap 17 anak menemukan sejumlah faktor yang berkaitan dengan perilaku siber berisiko.
Faktor anomie menjadi faktor dengan persentase rata-rata tertinggi, yakni 73,43 persen. Selanjutnya, social control mencapai 71,25 persen, differential association sebesar 71,18 persen, dan neutralization sebesar 70,44 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan perilaku siber pada anak tidak semata-mata berkaitan dengan tingginya intensitas bermain game. Faktor lingkungan sosial, lemahnya kontrol atau pengawasan, hubungan pertemanan, hingga cara anak membenarkan suatu perilaku juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Atas dasar temuan tersebut, tim PKM-RSH UNM kemudian mengembangkan pendekatan Siri Mind Therapy sebagai upaya membantu memutus pola perilaku berisiko pada anak.
Padukan CBT dengan Nilai Siri na Pacce
Siri Mind Therapy merupakan pendekatan yang memadukan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dengan nilai budaya lokal Siri na Pacce.
Melalui pendekatan tersebut, anak diarahkan untuk mengenali hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku. Anak juga diajak mengevaluasi kembali pola pikir yang dapat mendorong munculnya perilaku berisiko ketika beraktivitas di ruang digital.
Nilai Siri na Pacce kemudian digunakan untuk memperkuat kesadaran diri, rasa tanggung jawab, sekaligus kepedulian terhadap orang lain.
Pendekatan ini diharapkan tidak hanya membantu anak memahami dampak dari perilaku digitalnya, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengambil keputusan secara lebih bertanggung jawab.
Tidak Cukup Hanya Membatasi Durasi Bermain
Hasil riset tersebut menegaskan bahwa persoalan game online pada anak tidak cukup diselesaikan hanya dengan membatasi durasi bermain.
Pengawasan keluarga, pendampingan dari sekolah, lingkungan pertemanan yang positif, serta penguatan nilai-nilai budaya menjadi faktor penting dalam membentuk perilaku digital anak.
Karena itu, diperlukan sinergi antara orang tua, sekolah, lingkungan sosial, dan anak itu sendiri agar penggunaan teknologi tidak berkembang menjadi perilaku yang merugikan.
Melalui pendekatan yang memadukan aspek psikologis dan kearifan lokal, Siri Mind Therapy diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam membantu anak membangun pola pikir yang lebih sehat, meningkatkan kontrol diri, serta menggunakan teknologi digital secara bijak dan bertanggung jawab.








Komentar