Qoriah Disawer Uang Dua Pria Saat Baca Al-Quran, Ini Nasihat Ustadz Adi Hidayat

Publisher:

VIRAL, Pos Liputan – Video seorang qoriah disawer pria saat membaca ayat Al-Quran viral di media sosial.

Aksi pria menyawer seorang qoriah bernama Nadia Hawasyi terjadi di sebuah acara di Pandeglang, Banten.

Ketika itu, Nadia yang tengah membaca Al-Quran disawer dua orang pria yang tidak hanya melempar-lempar uang. Namun, satu dari dua orang pria tersebut bahkan menyelipkan uang di kerudung Nadia.

Setelah viral di sosial media, aksi saweran ini mendapat kecaman publik. Bahkan seorang alim ulama Indonesia yang menguasai isi kitab suci Alquran beserta letak barisnya, Ustad Adi Hidayat (UAH) turut menanggapi aksi saweran tersebut.

UAH Menjelaskan kemuliaan Al-Quran yang bukan hanya sekadar bacaan. Lebih dari itu, Al-Qur’an adalah pedoman paripurna dalam berkehidupan. Bahkan, Al-Qur’an merupakan obat untuk jiwa yang resah.

“Al-Quran menghimpun semua nilai-nilai kebaikan yang memberikan petunjuk kepada setiap orang untuk beriman dan berperilaku mulia dalam tatanan aktivitas kehidupannya,” tuturnya UAH di YouTube Adi Hidayat Official.

UAH Mengatakan, Al-Quran dari Al-Fatihah sampai An-Nas adalah kurikulum kehidupan yang mengantarkan pada kebahagiaan dan kesuksesan yang sejati.

“Jika dibacakan Al-Quran, maka dengarkan dengan fokus, diam, dan renungi agar mendapatkan rahmat dan pancaran kemuliaan-Nya,” kata UAH.

Karena itu, sangat tidak pantas apabila memperlakukan pembaca Al-Quran dengan sikap-sikap yang jauh dari kemuliaan.

UAH berpendapat jika pembaca Al-Quran tidak untuk disawer dan bukan untuk diteriaki. Pembaca Al-Qur’an untuk dihormati, didengar, direnungi.

“Mungkin di tempat lain seperti di Pakistan atau negara lain memberikan satu apresiasi berupa saweran tertentu dianggap sebagai bagian dari tradisi. Namun, tradisi satu tempat tidak harus sama dengan tempat lain. Lebih dari itu, tradisi yang bertentangan dengan nilai syariat tidak harus dilestarikan,” ucapnya.

UAH menasehati agar ketika berbagi pengetahuan tidak harus mencela orang lain, tetapi mendoakan, meluruskan dengan cara yang benar.

“Semoga Allah melembutkan hati kita memaafkan kesalahan kita dan menjadikan kita menyatu dalam kemuliaan dan kebaikan dengan cahaya Al-Qur’an,” tutup UAH.

Komentar